| Written by dr.Ricki Rajagukguk | ||||||||||
| Friday, 08 May 2009 16:31 | ||||||||||
|
Assessment dan Diagnosis ADHD
Assessment ADHD pada anak remaja sering lebih menantang dibandingkan anak yang lebih muda. Anak-anak prasekolah dan anak-anak SD biasanya dipantau dengan dekat oleh orang tua, dan saat sekolah, dipantau oleh satu guru, yang mampu untuk mengamati kemampuan akademis anak dan interaksi sosial anak. Pengamatan oleh orang tua dan guru SD biasanya sumber informasi yang baik dalam assessment kemungkinan ADSD pada anak. Sebaliknya, remaja biasanya memiliki 5-7 guru yang berbeda, dimana tiap guru dapat memiliki 100 hingga 150 murid dan hanya melihat murid yang diajar dalam skala waktu yang kecil tiap harinya. Diluar jam sekolah, remaja biasanya terlibat dalam banyak aktivitas dimana orang tua hanya sedikit terlibat untuk bisa mengetahui masalah mereka. Orang tua biasanya mendapat banyak informasi tentang tugas rumah anak dan nilai anak remaja mereka di sekolah, tetapi hanya sedikit informasi tentang fungsi sekolah, interaksi sosial dan hubungan pertemanan anak remaja mereka. Sebuah penelitian oleh Mitsis et al47 melaporkan peran guru dan orangtua dalam assessment ADHD sebesar 74%. Guru melaporkan lebih banyak simptom yang ditemui di sekolah dibandingkan orang tua. Orang tua kelakuan di sekolah dipengaruhi oleh kelakuan anak di rumah. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa kelakuan ADHD anak di sekolah tidak dipengaruhi oleh input dari guru. Subjek penelitian ini adalah siswa SD dan orang tua biasanya lebih tau kelakuan anak saat SD dari pada saat SMP atau SMA, yang berarti laporan orang tua akan kelakuan anak di SMP atau SMA lebih tidak akurat dibandingkan saat SD. Kebutuhan anak remaja akan kebebasan dan privasi lebih membuat orang tua susah dalam mendapat informasi tentang apa yang anak remaja mereka kerjakan di sekolah, di kegiatan ekstrakurikuler dan di hubungan sosial. Meskipun mendapatkan onformasi dari guru sekolah penting, namun banyak dendala yang didapat. Guru tidak mendapatkan informasi tentang bagaimana gejala ADHD muncul di setting yang kecil seperti di kantin, halte bus dan bus. Menghadapi hal ini klinisi ditantang untuk dapat mendapatkan informasi yang lebih dari setiap guru atau konselor serta kerjasama dengan sekolah dalam assessment dan diagnosis ADHD pada remaja. Penggunaan index seperti Brown ADD index untuk remaja atau Conners-Wells Adolescent Self-Report Scale menjadi komponen penting dalam evalasi klinis. Assessment dan terapi harus ditujukan tidak hanya pada gejala utama tapi juga pada dampak dari gangguan perkembangan meliputi masalah akademis, hubungan sosial yang buruk, kenakalan remaja, masalah seks dan masalah remaja lainnya. Psychoeducational testing tidak dapat menegakkan diagnosis ADHD,namun dapat memberi informasi yang berguna. Neuropsychologic tests biasanya tidak ada indikasi dalam assessment ADHD, kecuali ada masalah neurologi. Remaja dengan ADHD bisa mendapatkan pendidikan khusus, karena akan ada masalah dalam pelajaran seperti membaca, matematika dan menulis. ( 27 Votes )
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|











