Ruang Marnalom

Profesional Flash

Find Marnalom

  Ricki Rajagukguk's Facebook profile

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini71
mod_vvisit_counterKemaren84
mod_vvisit_counterMinggu ini337
mod_vvisit_counterBulan ini735
mod_vvisit_counterTotal45402
Written by dr.Ricki Rajagukguk   
Friday, 08 May 2009 16:19

Edukasi dan Penolakan Pasien ADHD

edukasi ADHDMenjelaskan pada seorang remaja yang terkena ADHD tentang kondisinya merupakan hal yang tidak gampang. Kurang mengertinya pasien akan kondisinya akan menyebabkan penolakan terhadap terapi. Namun di sisi lain, terlalu berlebihannya edukasi dokter, akan menyebabkan takutnya pasien dan berujung juga pada penolakan terhadap terapi.

 Semua individu dengan ADHD perlu memiliki pengertian dasar tentang kelainan ini, termasuk fakta bahwa kelainan ini adalah kelainan neurobiological.  Sangat membantu sekali untuk menyingkirkan stigma ADHD sama dengan penyakit seperti asma atau lainnya. Dengan edukasi ini, dapat membantu mengurangi rasa kurang beruntung lahir dalam keadaan seperti itu. Namun, bagaimanapun juga individu dengan ADHD dapat membuat hidup seorang individu terbatas, kecuali segera mendapat penanganan. Orang-orang dengan kelainan ini perlu terus diingatkan bahwa mereka tidak buruk, rusak, bodoh, atau cacat mental, mereka hanya individu yang perlu pertolongan dalam beberapa hal. Individu dengan ADHD tidak berbeda dengan yang lain. Penting juga untuk memberitahukan remaja yang terkena ADHD bahwa ADHD tidak menunjukkan intelegensi mereka.

 

Remaja dengan ADHD mungkin akan berlaku negatif terhadap pengobatan. Dalam penelitiannya pada 358 anak dengan ADHD, Pelham, Molina, dkk melaporkan bahwa penggunaan terapi psychoactive makin tidak populer dalam terapi anak remaja sesudah pendidikan SD. Pada sampel yang mereka ambil, 87% anak yang mendapat terapi psycoactive, 27,9% berhenti pada umur 11 tahun dan 67,9% berhenti pada umur 15 tahun. Umur menjadi faktor penting dalam pemberian terapi, karena anak yang berumur lebih tua, cenderung untuk tidak melanjutkan terapi. Hal ini bisa dikarenakan kontrol yang kurang, kecuali dokter secara aktiv memonitor.  Hal ini juga bisa dikarenakan anak remaja merasa tidak sakit jadi tidak perlu berobat. Beberapa faktor yang berpengaruh pada kelanjutan terapi adalah konsep akan ADHD, eratnya hubungan antar anggota keluarga, motivasi untuk sembuh, kontrol yang teratur, pemberian obat yang sederhana, efek samping yang sedikit, dan hubungan dokter-pasien. Motivasi dari dokter pada pasien remaja untuk sembuh, mempengaruhi keputusan pasien remaja dalam mengkontrol dirinya dalam menjalani terapi.


( 28 Votes )
Comments
Add New Search RSS
angela rhesy maharani     |110.137.232.xxx |2010-02-28 22:39:43
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."