| Written by dr.Ricki Rajagukguk | ||||||||
| Tuesday, 19 May 2009 11:11 | ||||||||
|
Bagaimana Jika Kedua Orangtua Berbeda Pendapat Soal Parenting?
Saat inkonsistensi ini terjadi, orangtua telah saling merusak otoritas masing-masing. Untuk menyelesaikan masalah ini, ayah dan ibu harus saling berbagi tentang konsep parenting masing-masing. Jika perlu, tuliskan di kertas dan evaluasi. Pada hal-hal yang berbeda, temukan kesepakatan dan taati kesepakatan itu. Tidak adanya komunikasi. Jika kedua orangtua tidak pernah bicara soal masalah yang dihadapi dalam mendidik anak, maka salah satu bisa kehilangan hal yang penting yang perlu diketahui. Untuk menghindari hal ini, orang tua perlu berkomitmen untuk terus mengkomunikasikan segala masalah dalam mendidik anak. Paling tidak sekali sehari orangtua perlu saling bicara tentang apa yang terjadi hari itu. Disaat yang bersamaan, bicarakan juga masalah yang mungkin dihadapi dikemudian hari. Kebingungan. Ketidakyakinan akan apa saja yang perlu ditekankan dalam mendidik anak, dapat menimbulkan kekacauan. Terlalu sering orangtua ragu-ragu tentang seberapa ketat aturan atau seberapa luas kebebasan yang dapat diberikan pada anak. Orangtua akhirnya justru tidak tegas memutuskan, dan yang akhirnya membuat anak bingung. Orangtua perlu menyelesaikan keragu-raguannya terlebih dahulu. Kemudian, orangtua harus mengumumkan keputusan mereka di depan seluruh anggota keluarga. Kompetisi. Kadang perasaan saling bersaing bisa berkembang diantara kedua oeangtua tentang perhatoan dan kasih sayang terhadap anak. Saat ayah ingin putrinya menghabiskan sabtu sore bersama-sama memancing, tetapi ibu ingin putrinya menemaninya berbelanja, akan membuat anak berada di tengah-tengah konflik. Orangtua perlu mencari jalan untuk bekerjasama, bukan berkompetisi. Ini tidak berarti bahwa perbedaan pandangan tidak boleh ada. Hanya saja jangan biarkan perbedaan pandangan yang ada mengaburkan tujuan mendidik anak. Bagi tanggung jawab dalam menentukan peraturan, sesuai area kekuatan masing-masing. Konflik terbuka. Terlalu sering orangtua berargumen satu sama lain dalam masalah-masalah keluarga. Mungkin anak mengalami masalah di sekolah, dan orang tua tidak sejalan dalam menanganinya. Ibu berpikir anak harus dihukum karna kesalahannya, sementara ayah percaya itu bukan salah sang anak. Mereka mulai berargumen berjam-jam bahkan berhari-hari tanpa ada penyelesaian masalah. Yang satu mungkin menang, karna yang lain mengalah untuk sementara. Tapi hal ini akan kembali berulang dalam topik yang berbeda. Jelas hal ini merupakan situasi yang tidak sehat. Orangtua perlu belajar mengatasi konflik perbedaan pandangan. Ini bisa dilakukan jika hubungan kedua orangtua baik-baik saja. Jika kedua orangtua memiliki masalah dalam hubungan pernikahan mereka, maka ini akan berdampak pada seluruh keluarga, cara dan pola orangtua mendidik anak, dan akhirnya yang menderita adalah anak. Orangtua perlu memiliki komitmen untuk punya waktu berdua sebagai pasangan dan berbicara tentang solusi kesalahpahaman, konflik dan persaingan yang ada. Orangtua perlu berkomitmen untuk bisa saling memaafkan dan saling mengerti serta terus mengevaluasi hubungan diantara mereka. Jangan pernah berpikir "anak-anak perlu lebih banyak perhatian sekarang. Jadi masalah pernikahan kami akan kami bereskan nanti sesudah anak besar." Ingatlah untuk membersihkan yang didalam terlebih dahulu, maka yang diluar juga akan bersih. Jangan pernah lari dari masalah. ( 36 Votes )
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|









Tidak konsisten. Kedua orangtua sering berbeda dalam memberi aturan di dalam rumah. Ibu mungkin berkata pada anak "Kamu tidak boleh nonton tv sebelum PR selesai."; Tapi waktu ibu tidak di rumah, ayah berkata, "Kalau kamu mau nonton tv, tonton aja." Konflik yang sama banyak terjadi dalam pendekatan disiplin.