| Written by dr.Ricki Rajagukguk | ||||||||||
| Monday, 18 May 2009 19:00 | ||||||||||
|
Bagaimana Membantu Anak Memilih Teman yang Tepat?
Memilih Teman. Beberapa faktor berperan saat seorang anak memilih teman mereka. Jika anak memiliki gambar diri yang baik dan jika anak dicintai dan dihargai dalam keluarga, anak biasanya memilih teman yang baik. Jika hubungan ayah dan ibu baik, hubungan anak anda dengan adek atau kakanya baik, maka dia akan melihat contoh yang baik bagaimana orang berhubungan satu sama lain, dan kemudian dia akan membawa kesan yang baik ini dalam hubungannya dengan temannya, termasuk bagaimana dia akan memilih teman. Begitu juga sebaliknya, jika latar belakang hubungan dalam keluarga tidak baik, anak akan cenderung memilih teman dengan latar belakang yang sama.Ambil waktu untuk membantu anak anda mengerti alasan kenapa harus memilih teman baik. Ini kesempatan yang baik berdiskusi tentang perasaan anak anda. Hubungan Yang Sehat. Membangun hubungan yang sehat merupakan usaha yang dilakukan tidak saja oleh anak anda, tetapi juga oleh temannya. Tidak boleh ada yang mendominasi dalam sebuah hubungan. Mereka harus saling berbagi dan berusaha tidak mementingkan kepentingan sendiri. Dalam sebuah hubungan yang sehat, mereka juga belajar untuk menyelesaikan masalah bersama. Jika seorang dari mereka memiliki sebuah mainan yang sama-sama mereka ingin mainkan, maka mereka harus berpikir untuk bermain bergantian atau mencari permainan lain yang bisa dimainkan secara bersama-sama. Kemampuan bahasa juga diperlukan dalam membangun hubungan yang sehat. Pada usia remaja, anak belajar untuk berkomunikasi dengan jelas satu sama lain, berbagi rahasia, cerita, perasaan, dan humor. Anak dengan kemampuan bahasa yang kurang, biasanya sulit untuk menyampaikan sesuatu. Teman baik. Anak remaja lebih banyak berkonsentrasi pada hubungan dengan satu teman baik. Pada hubungan seperti ini, anak biasanya sering memilih teman yang memiliki kesamaan, yang dapat memenuhi kebutuhannya untuk diakui dan merasa nyaman. Ini bisa menjadi hubungan pertemanan yang indah yang dapat bertahan lama. Ketakutan orang tua akan terkukungnya anak hanya dalam sebuah hubungan, tidak beralasan. Berbagi pengalaman, pikiran dan perasaan dengan seorang teman baik lebih efektif dibandingkan menghabiskan waktu dengan sekelompok besar orang, selama mereka dapat saling memberi dampak yang positif. Teman biasa datang dan pergi begitu saja, tetapi teman baik bertahan seperti keluarga. Dampak Negatif. Berhadapan dengan pengaruh negatif sebuah hubungan, terbilang sulit, namun tetap ada solusinya. Orang tua kebanyakan memaksa anak untuk tidak berteman dengan anak yang membawa pengaruh negatif. Hal ini bukan strategi yang baik. Pada kebanyakan kasus, strategi yang tepat adalah dengan membawa anak anda pada sebuah komunitas yang baik dan mendorongnya untuk mendapatkan teman baik di komunitas tersebut. Undang beberapa orang dari komunitas tersebut yang anda lihat dekat dengan anak anda, untuk datang bermain ke rumah anda. Buatlah sebuah permainan yang menarik dan tidak terlalu lama untuk anak anda dan temannya yang anda undang. Di saat yang bersamaan, jangan malu untuk menyatakan kesukaan anda untuk anak anda berteman baik dengan anak yang anda undang. Sampaikan juga ketidaksukaan anda pada teman anak anda yang memberi dampak negatif. Sampaikan hal ini dengan santai dan rasional alasan anda. Beritahu juga konsekuensinya jika anak anda meniru hal negatif dari temannya yang tidak anda suka. Jangan langsung melarang anak anda bermain dengan temannya yang anda tidak suka. Pendekatan ini membuat anak anda berpikir lebih logis dan belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang dia dapat atas hubungan yang tidak sehat. Hal ini dapat menunjunkan pada anak anda kepercayaan anda pada kemampuan anak anda dalam bertumbuh dan mengambil keputusan yang tepat. ( 35 Votes )
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|










Umur 5 hingga 12 merupakan umur dimana anak mulai bersosialisasi. Secara perkembangan, maka anak umur sekolah telah siap untuk hubungan yang lebih kompleks. Mereka mulai dapat menyampaikan ide dan perasaan mereka. Hari demi hari mereka terus saling berbagi kesenangan dan kesedihan.